HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar

Perahu Rusak di Antara Tumpukan Sampah, Potret Ironis Pesisir Kronjo di Tengah Gemuruh Pembangunan



Catatan Ananta Putra

Founder/Pemimpin Redaksi Infoterbit

Hiruk-pikuk pembangunan di berbagai penjuru Kabupaten Tangerang tampak terus berjalan.

Jalan-jalan diperlebar, diperbaiki, diperhalus. Gedung-gedung berdiri tegak, dan papan-papan proyek baru bermunculan seolah tak ada hentinya. 

Namun di sudut lain, di tepian Pesisir Kronjo, tepatnya di Sungai Cipasilian yang mengakses ke Laut Jawa, ada pemandangan yang mematahkan senyum itu.

Sebuah perahu nelayan tua terparkir miring, terjepit di antara tumpukan sampah yang kian memanjang ratusan meter. Bahkan, badan kapal itu sebagian besat telah tertimbun sampah. 

Kayunya mulai lapuk dimakan usia dan air asin, tak lagi mampu mengarungi lautan yang dulu menjadi sumber harapan keluarga pemiliknya.

Di sekelilingnya, plastik, styrofoam, dan sampah lainnya berkilau di bawah sinar matahari — sebuah pemandangan yang begitu menyayat hati.

Perahu itu bukan sekadar kayu yang rusak. Ia pernah membelah ombak, membawa pulang ikan untuk menafkahi anak-anak di rumah. Ia pernah menjadi saksi tawa nelayan saat jaring ditarik penuh hasil laut.

Kini, ia hanya diam terbengkalai. 

Sang pemilik tertunduk lesu. Kapal yang rusak dan belum punya biaya untuk memperbaiki atau membuat yang baru. 

Tumpukan sampah di sana makin menenggelamkan asanya. Alur pelayaran terganggu. Sampah-sampah itu tak hanys berjajar memanjang, tapi jugs menjorok ke tengah Sungai Cipasilian. 

Padahal, sungai itu jadi jalur pelayaran satu-satunya bagi nelayan setiap berangkat dan pulang melaut. Setiap hari, ratusan kapal melewatinya. 

Sering terjadi kesulitan saat dua kapal berpapasan, sehingga salah satunya harus berhenti dan memberi jalan.

Kabupaten Tangerang Di Antara Dua Realita

Ini adalah ironi yang nyata. Di satu sisi, Kabupaten Tangerang terus berpacu dengan waktu dalam pembangunan fisik yang mengesankan.

Namun di sisi lain, pesisir yang menjadi tumpuan hidup ribuan keluarga nelayan justru terabaikan. Laut yang memberi mereka kehidupan, kini perlahan menderita akibat ulah tangan manusia yang tak bertanggung jawab.

Pembangunan memang seharusnya membawa kesejahteraan, bukan menenggelamkan harapan warga paling sederhana.

Ketika gedung-gedung berdiri megah, pembangunan dimana-mana, sungai dan pesisir tempat warga mencari nafkah tak boleh dibiarkan mati tertimbun sampah.

Perahu tua yang rusak itu adalah pengingat: kemajuan tidak layak disebut maju jika sebagian rakyatnya masih berjuang sekadar untuk memiliki laut yang bersih.

Semoga potret ini bukan sekadar cerita yang lewat, tapi menjadi cermin bagi kita semua, bahwa menjaga alam adalah bagian tak terpisahkan dari membangun negeri.

Kronjo, 27 Oktober 2026


Posting Komentar