HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar

Nenek Masruah, Warga Desa Talok Kresek yang Rumahnya Dibedah Swadaya oleh Infoterbit, FPMI dan Pagobang Meninggal Dunia


TANGERANG, INFOTERBIT — Nenek Masru'ah (83), wanita lanjut usia (lansia) yang baru saja mewujudkan impian seumur hidupnya memiliki rumah layak huni, kini telah berpulang ke Rahmatullah. Ia meninggal dunia pada Rabu, 21 Oktober 2026, sekitar pukul 10.30 WIB, karena sakit jantung yang dideritanya.

Nenek Masru'ah sebelumnya sempat dirawat di rumah sakit dan diperkirakan kondisinya membaik. Nenek Masruah pun sudah bisa pulang ke rumahnya yang baru. Namun takdir Tuhan berkata lain. Sang Pemilik Kehidupan memanggilnya pulang, tak lama setelah ia menikmati kenyamanan tempat berteduh yang layak untuk pertama kalinya dalam hidupnya.

Seperti diketahui, sebelumnya Media Infoterbit, bersama FPMI dan Pagobang, bergerak bersama donarur dan para sukarelawan bergotong royong membangunkan tempat berteduh yang layak untuk Nenek Masru'ah.

Almarhumah Nenek Masru'ah sebelumnya mengeluhkan kondisi rumahnya yang tidak layak huni kepada tim media Infoterbit.

Bertahun-tahun, ia hidup sederhana di sebuah bangunan yang jauh dari kata layak. Angin dan hujan kerap masuk tanpa permisi. Namun di balik segala keterbatasan itu, senyumnya tak pernah hilang. Ia tak pernah mengeluh berlebihan, meski tubuhnya mulai renta dan sakit jantung perlahan melemahkannya.

Ketika rumah itu selesai dibangun, wajah Nenek Masruah bersinar terang. Matanya berkaca-kaca memandang dinding yang kokoh dan atap yang tak bocor lagi. 

Namun, baru beberapa hari ia menikmati tidur yang lebih tenang di tempat tidurnya yang baru, Nenek Masru'ah meninggal dunia. Sebelum meninggal, Ia sempat berkata kepada tetangganya, merasa sangat bahagia dan bersyukur. Keinginan hatinya sudah terpenuhi.

Nenek Masruah akhirnya berpulang dengan tenang di usia senjanya.

Ia mungkin tak lama menempati rumah yang dibangun dengan kasih sayang itu. Tapi siapa pun yang melihat senyum bahagianya saat pertama kali melangkah masuk, tahu betapa besar makna rumah itu baginya. Bukan sekadar tembok dan atap, melainkan bukti bahwa ia tidak sendirian. Bahwa warga sekitar, para relawan, dan sesama manusia, peduli padanya.

Rumah fisiknya kini ditinggalkan. Namun kebaikan yang dilakukan untuknya tetap abadi. Nenek Masruah telah pindah ke rumah yang jauh lebih indah dan kekal di sisi-Nya. Semoga rumah yang dibangun di dunia ini menjadi amal jariyah yang tak terputus pahalanya bagi semua pihak yang telah berpartisipasi.

Selamat jalan, Nenek Masruah. Terima kasih telah mengajarkan kita arti syukur yang tulus. Rumahmu di surga pasti jauh lebih indah. Semoga amal baik yang telah kau terima dan kebaikan hatimu diterima di sisi Allah SWT.

Ananta/TiMS


Posting Komentar