Rindu Sosok Pemimpin yang Benar-Benar Hadir; Kresek Diantara Masalah Sampah Hingga Rumah Tak Layak Huni
Catatan Ananta Putra
Founder/Pemimpin Redaksi Infoterbit.com
Kresek. Satu nama dari 29 kecamatan di Kabupaten Tangerang yang selalu lekat dengan deretan masalah yang tak kunjung usai.
Sebagai media yang setiap hari menyambangi sudut-sudut desa di sini, yang kami temui di lapangan sungguh memilukan.
Sampah menumpuk di mana-mana, marak pembuangan sampah ilegal, menggenang di selokan hingga menimbulkan bau tak sedap dan jadi sarang penyakit.
Pembakaran sampah juga kerap terjadi. Bahkan dekat lingkungan sekolah. Wali murid di SD Al Rasyid Kresek sudah menyuarakannya. Sekolah ini dekat dengan pembuangan sampah ilegal. Siswa disana setiap hari merasakan kepulan asap dari pembakaran sampah, entah siapa yang membakarnya.
Wali murid disana khawatir, asap yang terus-menerus dihirup anak-anak mereka berdampak menganggu kesehatan. Mereka khawatir anak-anak terserang ISPA (infeksi saluran pernafasan akut).
Bahkan, Kepala SD Al Rasyid Sadani juga memohon agar sampah di lingkungan dekat sekolah segera ada solusi, baik dari Pemerintah Kecamatan Kresek, maupun Pemerintah Kabupaten Tangerang.
"Terima kasih pak atas Bantuannya, semoga dapat solusi terbaik dari kecamatan atau pemerintah kabupaten," ujar Sadani kepada Infoterbit.com.
Tapi solusi tak pernah datang. Pembakaran terus berlanjut. Bahkan kini, lokasi pembuangan sampah ilegal itu memanjang hingga ke depan gerbang sekolah. Sungguh pemandangan yang ironis!
Camat Kresek, Eka Fathussidki dalam tanggapannya kepada Infoterbit.com mengatakan, Pemerintah Kecamatan Kresek, memberi perhatian serius pada titik-titik pembuangan sampah liar.
"Kami tidak tinggal diam dan segera menginstruksikan tim kecamatan untuk turun mengecek lokasi-lokasi baru tersebut guna pemetaan dan penanganan darurat," ujarnya.
Camat Eka juga memahami kekecewaan warga jika penanganan sampah terasa seperti pembersihan sementara lalu menumpuk kembali. Untuk itu, langkah yang dilakukan bukan lagi sekadar pembersihan (pola pemadam kebakaran), melainkan pencegahan berulang.
Marak Rumah Tak Layak Huni
Persoalan lain juga muncul; marak rumah tidak layak huni.
Ratusan rumah tak layak huni masih berdiri di wilayah Kecamatan Kresek —dinding rapuh, atap bocor, nyaris rubuh —dihuni lansia dan keluarga miskin yang menunggu ulur tangan pemerintah yang tak kunjung tiba.
Secara bertahap memang sudah dibedah dan direnovasi, tapi masih banyak yang belum mendapatkan program itu. Jumlahnya mencapai ratusan.
Contohnya adalah Nenek Masru'ah, warga Kp. Andil Desa Talok, Kecamatan Kresek. Sudah tiga tahun lamanya ia mengusulkan rumahnya dibedah oleh Pemerintah, tapi tak kunjung rerealisasi.
Sampai akhirnya datang gerakan kepedulian datang dari masyarakat sendiri, dari media, dari relawan.
Mereka harus turun, swadaya membedah rumah Nenek Masru'ah yang tak layak huni, menggalang dana swadaya, mengumpulkan koin receh, karena tak ada bantuan bedah rumah yang menyentuhnya dari jajaran pemerintahan kecamatan.
Kini, warga Kecamatan Kresek merindukan sosok pemimpin wilayah yang bukan sekadar nama di surat keputusan, melainkan sosok yang hadir, peka, dan bekerja sepenuh hati demi rakyatnya.
Pemimpin adalah garda terdepan pelayanan. Ia bukan pejabat yang hanya duduk di ruangan ber-AC, melainkan orang yang paling tahu apa yang dirasakan warganya.
Pemimpin yang tidak menutup mata saat warga menjerit memohon bantuan. Tidak mendiamkan pelanggaran aturan seperti persoalan sampah.
Warga Kecamatan Kresek tak meminta kemewahan. Mereka hanya ingin pemimpin yang hadir, yang peka, dan yang bekerja. Kami merindukan sosok pemimpin yang benar-benar melayani.
Semoga, kerinduan ini segera terjawab dengan perubahan nyata, bukan sekadar janji manis yang tak pernah ditepati.
Kecamatan Kresek layak mendapat pemimpin yang lebih baik.
Catatan Ananta Putra, Jumat 21 Agustus 2026
