HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar

Tawa dan Haru Nenek Masru'ah


Catatan Ananta Putra

Founder/Pemimpin Redaksi Infoterbit.com

Di teras rumah tetangganya, Nenek Masru'ah (83) terlihat duduk sambil memandangi rumahnya yang kini sedang dibongkar di hari ini, Minggu pagi 12 Juli 2026.

Matanya berkaca-kaca, senyum tipis tak lepas dari wajah keriputnya, tanda kebahagiaan yang tak sanggup diungkapkan hanya dengan kata-kata.

Sesekali dia menggenggam tangan para relawan dan dermawan yang mendampingi. Ada tim dari Media Infoterbit.com, Komunitas Paguyuban Ngopi Bareng (Pagobang) Putra Andil dan Forum Peduli Masyarakat Indonesia (FPMI) serta pegiat sosial Marnan Sarbini. 

Di sisi lain, puluhan warga terlihat sedang membongkar bagian atap rumah Nenek Masru'ah. Mereka tampak bersemangat membantu bedah rumah itu. 

"Sudah lama warga di sini kasihan dengan Nenek Masru'ah. Rumahnya rusak di sana-sini, kalau hujan selalu kebanjiran karena gentengnya pada bocor. Sudah sering diusulkan, tapi tak pernah terealisasi," ujar Ade, warga setempat.

Nenek Masru'ah tinggal sendirian di rumah itu. Suaminya sudah lama meninggal. Anaknya ada dua, tapi satu diantaranya juga telah meninggal. Satu orang lagi merantau jauh dan jarang pulang. 

Di rumah peninggalan suaminya itu, sesekali dia ditemani oleh sang cucu yang telah berkeluarga.

"Dulu setiap hujan saya tak bisa tidur," ujar Nenek Masru'ah bercerita dengan nada lirih kepada para relawan. Katanya, di sana-sini bocor, air menetes dari atap, angin masuk lewat celah lubang.

Dia hanya pasrah. Asanya untuk memperbaiki rumah telah pupus. Jangankan renovasi rumah, untuk makan sehari-hari saja terkadang hanya menunggu belas kasih dari para tetangga yang mengiriminya makanan. 

Cucu perempuannya yang telah berkeluarga juga bukan orang berada. Suaminya hanya kerja serabutan yang terkadang penghasilannya hanya mampu untuk mencukupi keluarga mereka sendiri. 

Di sisi lain, sudah hampir tiga tahun, pengajuan bedah rumah kepada pemerintah melalui pihak Pemdes maupun kecamatan tak kunjung terealisasi. "Saya sudah pasrah, mungkin keadaan saya harus begini di sisa umur saya," ujar Nenek Masru'ah. 

Tapi nasib orang siapa yang tahu. Tiga minggu yang lalu, Media Infoterbit.com bersama Komunitas Pagobang datang ke rumah Nenek Masru'ah membawakan sembako. 

Dari kunjungan itu, Infoterbit langsung mengangkat kisah pilu Nenek Masru'ah, baik melalui media online maupun media sosial TikTok dan Facebook. 

Kisah Nenek Masru'ah pun viral. Para Pegiat Sosial dari berbagai daerah tergerak hatinya. Diantaranya Ibu Indah Rusmiati, mantan anggota DPRD Provinsi Banten yang kini aktif di bidang sosial kemasyarakatan. 

Ibu Indah pun langsung mengajak Bapak Tomi, pengusaha muda yang selama ini juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial. 

Di sisi lain, FPMI melalui Pegiat Sosial Marnan Sarbini pun bergerak. Menggandeng H. Tatang Founder Azaka Haromain dan Kak Hendra dari 13Nadi Studio Musik. Tak menunggu waktu lama, bantuan material mulai berdatangan. 

Akhirnya, pada Minggu 11 Juli 2026, bedah rumah Nenek Masru'ah dimulai. Para tetangga pun kompak. Turun tangan membantu proses pembongkaran atap rumah. Mereka kerjakan secara gotong-royong dengan penuh kegembiraan. Warga ikut lega, bersyukur karena akhirnya rumah Nenek Masru'ah direnovasi. 

Kolaborasi ini memunculkan makna. Di sini, bukan hanya rumah yang dibangun, melainkan jembatan kasih sayang antar sesama. Saat pegiat sosial, komunitas, dan relawan bersatu, sebatang kayu, sebutir semen, dan setetes keringat menjadi doa yang menyatu. 

Satu tangan mungkin hanya bisa mengangkat batu, tapi ribuan tangan bergandengan mampu membangun harapan yang kokoh.

Nenek Masru'ah pun tak bisa menyembunyikan rasa harunya. Diwakili Kang Ade, adik Nenek Masru'ah, dia mengatakan, sebagai pekerja buruh yang penghasilannya tak menentu, selama ini hanya bisa berdoa agar rumah kakaknya, Masru'ah, bisa diperbaiki.

"Saya sudah berusaha sekuat tenaga ingin sekali untuk membantu teteh saya, Masru'ah agar bisa memperbaiki rumahnya. Tapi, apa daya, penghasilan saya sendiri juga masih pas-pasan," katanya.

Karena itu, Kang Ade mengucapkan terima kasih kepada seluruh dermawan, donatur dan warga yang telah membantu bedah rumah kakaknya.

"Terima kasih Bapak, Ibu, Saudara sekalian, para donatur, Ibu Indah, Bapak Tomi, Haji Tatang, Kak Hendra, tim Infoterbit, Pagobang, FPMI, serta warga yang telah bergotong royong mewujudkan hunian layak bagi kakak saya, Ibu Masru'ah. Semoga setiap jerih payah yang disumbangkan, baik materiil, tenaga, dan apapun itu menjadi pahala yang berlipat ganda," ucapnya dengan suara bergetar.

Mereka juga mendoakan agar para donatur selalu dilimpahkan kesehatan, rezeki yang berkah, dan kebahagiaan bersama keluarga tercinta. 

Saat ini, yang sedang kita lakukan, tidak sekadar memperbaiki atap yang bocor atau dinding yang rapuh. Kita sedang merajut kehangatan, menata rasa aman, dan menghadirkan senyum di tempat yang dulunya penuh kekhawatiran. 

Kolaborasi ini bukti nyata: kekuatan terbesar manusia bukanlah kekayaan, melainkan kepedulian. Ketika kita bergerak bersama, langit pun seolah ikut tersenyum. Setiap sentuhan kerja keras kita adalah puji syukur yang diwujudkan dalam tindakan nyata.

Semoga setiap kebaikan yang kita berikan akan berpulang kembali menjadi berkah bagi kita semua.

Tangerang, 13 Juli 2026


Posting Komentar