Usai Viral di Infoterbit, Akhirnya Camat Kemiri Ubah Data Desil 5 Magfiroh Warga Desa Klebet
TANGERANG, INFOTERBIT - Usai kisahnya viral di Infoterbit.com, akhirnya, Magfiroh, warga Kp. Biyawakan RT 005/RW 006, Desa Klebet, Kecamatan Kemiri, Kabupaten Tangerang, yang tinggal di gubuk bekas sarang walet, mendapat perhatian dari Pemerintah Kecamatan Kemiri.
Diberitakan sebelumnya, Magfiroh yang tak punya rumah, bahkan tinggal menumpang di gubuk sempit milik orang lain, statusnya masuk Desil 5, golongan masyarakat dengan status ekonomi menengah ke atas, bukan kelompok paling miskin. Hal ini berdasarkan DTSEN (Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional).
Padahal, kondisi ekonomi keluarga ini memprihatinkan. Suaminya hanyalah buruh tani penggarap ladang timun suri milik orang lain. Sementara anak pertamanya putus sekolah.
Terkait itu, Camat Kemiri Rudi Hadikarsono akan melakukan perubahan atau pembaruan data Desil Magfiroh agar yang bersangkutan dapat memenuhi kriteria untuk menerima bantuan sosial, termasuk Program Keluarga Harapan (PKH).
Sebelumnya, pada Senin, Camat Kemiri memanggil operator Desa Klebet dan pendamping PKH Desa Klebet untuk membahas persoalan data dan kondisi Magfiroh.
Informasi yang diterima menyebutkan, Camat Kemiri juga menginstruksikan Kepala Desa Klebet untuk menyambangi rumah Magfiroh dan melihat secara langsung kondisi kehidupan warga tersebut.
Pegiat sosial Marnan Sarbini mengapresiasi langkah pemerintah kecamatan tersebut. Namun, ia menyayangkan persoalan Magfiroh baru mendapat perhatian serius setelah pemberitaannya menjadi sorotan publik.
“Pemdes Klebet seharusnya tidak harus menunggu viral atau menunggu instruksi camat untuk melihat kondisi warganya. Rumah Magfiroh juga tidak jauh dari kantor desa. Seharusnya kondisi seperti ini bisa diketahui dan ditindaklanjuti sejak awal,” ujar Marnan.
Marnan menilai persoalan Magfiroh bukan hanya mengenai perubahan data desil, tetapi juga bagaimana pemerintah memastikan warga yang benar-benar rentan mendapatkan perlindungan dan akses terhadap program bantuan sosial.
Terlebih, pada 2025 Magfiroh disebut sudah pernah didatangi pihak kecamatan dan Dinas Sosial Kabupaten Tangerang. Namun, meski diketahui berada dalam kondisi rentan dan tinggal di gubuk bekas sarang walet, Magfiroh hingga kini belum tercatat sebagai penerima bantuan sosial PKH.
“Kita berharap setelah adanya perhatian dari Camat Kemiri, persoalan ini tidak berhenti pada pendataan atau perubahan Desil saja. Pemerintah harus memastikan Magfiroh dan keluarganya mendapatkan hak serta bantuan sesuai ketentuan,” tegas Marnan.
Ia juga meminta pemerintah desa, kecamatan, dan instansi terkait melakukan verifikasi lapangan secara menyeluruh agar data kesejahteraan warga benar-benar sesuai dengan kondisi kehidupan masyarakat.
Langkah tersebut dinilai penting agar warga yang hidup dalam kondisi rentan tidak kembali terlewat dari program perlindungan sosial pemerintah.
Saat ini, karena Magfiroh tercatat bukan kelompok termiskin, akses ke berbagai program perlindungan sosial menjadi terbatas.
Dia tak pernah mendapat bantuan sosial apapun dari Pemerintah. Bahkan tak mendapat program PKH, karena program ini ditujukan buat warga berstatus Desil 1-4.
Dalam statusnya Desil 5, Magfiroh dinyatakan sebagai keluarga menengah. Sebab, setidaknya ada 5 karakteristik Desil 5 yakni; kebutuhan dasar umumnya terpenuhi, punya rumah sendiri/kontrak dengan dinding permanen, memilili aset seperti sepeda motor, pekerjaan utama sebagai karyawan, buruh, wiraswasta kecil atau pedagang dan akses pendidikan dan kesehatan sudah lebih baik.
Namun, dari lima kriteria Desil 5 itu, berbanding terbalik dari kehidupan Magfiroh.
Keluarga ini masih kerap kesulitan untuk mencukupi kebutuhan dasar di keluarga, rumahnya masih menumpang dengan orang lain, karena dia tidak punya rumah dan tidak sanggup untuk mengontrak.
"Saya tak punya kendaraan dan suami saya hanya ngebun nanem timur suri dengan penghasilan tak menentu dan tidak setiap hari," katanya.
Senentara, akses pendidikan dan kesehatan juga terbatas. Anak pertamanya putus sekolah, sedangkan untuk akses pendidikan, anak pertamanya yang menderita sakit tumor mata dioperasi atas uluran tangan dari dermawan.
Ananta/TiMS
