Pemdes Klebet Bagikan Beras ke Ratusan Warga, Magfiroh dari Gubuknya Cuma Bisa Memandang dengan Mata Berkaca-kaca
TANGERANG, INFOTERBIT — Hari ini, Sabtu 29 Agustus 2026, Kantor Desa Klebet, Kecamatan Kemiri, Kabupaten Tangerang tampak ramai sekali.
Ratusan warga berdatangan, tertib berbaris, lalu pulang membawa kantong beras. Mereka tertawa, bergembira.
Tapi di sebuah rumah gubuk yang tak jauh dari kantor Desa Klebet, ada seorang wanita bernama Magfiroh. Ia hanya berdiri terpaku di ambang pintu gubuk bekas sarang waletnya yang reyot. Menatap dari jauh dengan mata berkaca-kaca, air mata menetes perlahan membasahi pipi.
Beras bantuan yang dibagikan staf Desa Klebet itu, seharusnya juga menjadi haknya. Namun Magfiroh tak bisa ikut berbaris mengantri bersama warga kainnya. Dia tak mendapat undangan sebagai salah satu penerima bantuan.
Kenapa?
Di atas kertas, namanya tertulis Desil 5 — golongan yang dianggap cukup mampu. Sehingga saat bantuan dibagikan, namanya tak ada di daftar.
Sementara di kenyataan hidup, ia tak punya tanah, tak punya rumah milik sendiri, numpang di bangunan sempit yang hampir rubuh. Anak sulungnya berhenti sekolah karena tak sanggup biayanya, penghasilan suami dari kerja serabutan tak menentu.
"Lihat tetangga pulang bawa beras, hati saya perih bukan main. Bukan iri pada rezeki mereka, tapi sedih kenapa saya dianggap tak butuh, padahal nyaris tak ada yang bisa saya sandarkan harapan," batinnya tertahan di dada.
Sudah lama kisah Magfiroh terdengar. Sudah berkali-kali disampaikan, sudah menyebar luas, bahkan diketahui hingga ke tingkat Kecamatan Kemiri. Camat pun sudah meminta agar Desil Magfiroh diubah sesuai kondisi sebenarnya agar bisa mendapat bantuan.
Tapi angka di lembar data tak bergeming: Desil 5 tetap Desil 5.
Pegiat Sosial Marnan Sarbini prihatin dengan kondisi ini. Data seharusnya mencerminkan kenyataan, bukan memaksakan kenyataan mengikuti angka.
'Ibu Magfiroh hanya ingin datanya diluruskan sesuai apa adanya, agar haknya tak terputus karena kesalahan tulis. Ia ingin rumahnya layak, anaknya punya harapan, dan saat bantuan disalurkan — ia tak lagi harus menonton dari jauh dengan hati sedih," ujar Marnan.
Kasus Magfiroh bukan sekadar satu nama yang tertukar. Ia adalah cermin betapa mahalnya sebuah kebenaran bagi warga desa miskin.
Pemerintah desa, kecamatan, hingga kabupaten — kini saatnya turun. Bukan saat warga sudah berteriak di media, tapi sebelum air mata jatuh karena tak mendapat beras. Verifikasi ulang bukan hanya untuk Magfiroh, tapi bagi siapa pun yang nasibnya tertukar di atas kertas.
"Jangan biarkan gubuk sarang walet menjadi saksi bisu: ada warga yang lapar bukan karena tak diberi, tapi karena datanya keliru," kata Marnan.
Sampai kapan Magfiroh harus menonton rezeki lewat di depan mata, sementara dirinya tetap terkurung dalam angka yang salah?
Ananta/TiMS
