Nestapa TKW Aan Asal Pakuhaji Tangerang: Diberangkatkan ke Turki, Terkatung-katung di Irak, Sering Dikurung di WC dan Dipukuli
TANGERANG, INFOTERBIT — Rasa rindu anak pada ibunya seharusnya terbayang senyum dan pelukan hangat.
Namun bagi Andri Sutiyawan, menyebut nama ibunya, Ibu Aan, justru memanggil kepedihan yang tak bertepi. Ibunya, warga Pakuhaji, berangkat bekerja ke luar negeri dengan janji manis ke Turki.
Namun kenyataan pahit menanti: ia tak dibawa ke Turki, melainkan dipekerjakan di Irak — tanpa dokumen sah, perlindungan, dan perlakuan layak.
"Sudah 7 kali ganti majikan, dan yang sekarang pun ibu sudah kerja 24 hari. Belum jelas apakah dikontrak atau tidak, Kang," ungkap Andri melalui pesan WhatsApp kepada Infoterbit.com, Rabu malam 26 Agustus 2026.
Janji Manis yang Menipu
Menurut Andri, semua kisah pilu ini bermula pada bulan Agustus 2025. Sponsor bernama Hj. Titin beserta anaknya, Ibu Een, serta agen di Jakarta bernama Pak Danil, menjanjikan Ibu Aan akan bekerja di Turki.
"Jika dalam enam bulan belum mendapat majikan, Ibu saya dijanjikan akan dipulangkan tanpa syarat," katanya.
Namun janji itu tinggal janji. Ibu Aan tak sampai ke Turki. Ia justru dibawa ke Irak, di sana-sini dipindah-pindahkan majikan, nasibnya tak pernah menentu.
"Tiap kali pindah majikan, tiap kali pula harapan kami dipatahkan. Sudah tujuh kali berganti, tak pernah ada kejelasan," kata Andri.
Dikurung di Kamar Mandi, Dipukuli, Tak Diberi Makan
Penderitaan TKW Aan bukan sekadar tak tentu nasib. Tubuhnya disiksa, haknya diinjak-injak. Setiap kali kembali ke kantor penyalur, ia dikurung di kamar mandi selama 2 hari tanpa diberi makan.
"Madam di kantor itu selalu main tangan kepada ibu saya. Dipukuli tanpa alasan, disiksa tanpa belas kasihan. Di mana keadilannya?" ujar Andri tak kuasa menahan emosi.
Kini TKW Aan sakit, namun tak mendapat perawatan layak. Saat Andri menagih janji pada Ibu Een awal Juli lalu, justru muncul tuntutan baru yang berat: keluarga diminta membayar tebusan Rp75 juta untuk memulangkan ibunya.
"Padahal dulu dijanjikan gratis jika belum mendapat majikan dalam 6 bulan," kata Andri.
Bukan sekadar uang yang diminta. Ibu Aan diancam: jika keluarga melapor atau bertanya hal-hal yang "aneh-aneh", ia akan dipindahkan bekerja di rumah madam di Erbil selama 2 tahun tanpa digaji sepeser pun.
"Diancam begitu, ibu saya tak berani bersuara. Takut semakin lama terperangkap. Diam disiksa, bicara diancam. Di mana tempat untuk berlindung?"
Menurut Andri, kini baik Hj. Titin, Ibu Een, dan Pak Danil sulit dihubungi. Telepon tak dijawab, pesan tak dibalas. Sementara Ibu Aan tetap terkurung di negeri asing — sakit, lapar, disiksa, rindu pulang namun tak punya jalan pulang.
Minta Pemerintah Membantu Pulang
Andri dan keluarganya saat ini meminta bantuan kepada Pemerintah, baik Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) maupun Pemkab Tangerang untuk membantu pemulangan ibunya ke Indonesia.
"Kami mohon kepada Bupati Tangerang, Gubernur Banten, KP2MI, dan pihak berwenang, tolong jemput ibu saya pulang," pintanya.
Sementara hingga berita ini diturunkan, pihak Sponsor belum dapat dihubungi. Seorang tim redaksi Infoterbit sudah berusaha menelpon sponsor tersebut, namun ponselnya tidak aktif. "Sepertinya nomor saya diblokir, beberapa waktu lalu saya masih bisa konfirmasi lewat WA, tapi sekarang sudah tidak bisa," kata Marnan, redaksi Infoterbit.
Ananta/TiMS
