HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar

Kemarau Panjang Melanda Kresek, Lahan Sawah Kering Kerontang, Padi Umur Sebulan Terancam Mati


TANGERANG, INFOTERBIT — Musim kemarau yang berlangsung lebih lama dari biasanya membuat cemas para petani di Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang.

Ratusan hektar lahan sawah mulai mengalami kekeringan parah, tanaman padi yang baru berumur sekitar satu bulan tak lagi mendapat pasokan air pengairan.

Di Desa Kresek, tanaman padi yang seharusnya mulai tumbuh tinggi dan menghijau, kini justru terlambat pertumbuhannya dan daunnya mulai layu dengan batang kecil karena kekurangan air.

"Air tidak turun, saluran pun kering. Bagaimana tanaman padi bisa hidup sehat?" keluh Rasiman, salah seorang petani di Desa Kresek. 

Ia mengaku baru saja menanam padi sekitar sebulan lalu dan baru memberi sekali pupuk. Harapannya tinggi saat menanam, namun kini pupuk itu seakan terbuang sia-sia karena tanaman terancam mati sebelum berbuah.

"Kalau mati begini, rugi benih, rugi pupuk, rugi tenaga. Modal belum kembali, sudah harus merugi," ujarnya dengan wajah cemas.


Kondisi saluran irigasi yang mengering membuat para petani tak berdaya. Mereka berusaha mengambil air dari sumur dan parit kecil, namun jumlahnya tak sebanding dengan luas lahan yang harus diairi.

Panas terik matahari setiap hari semakin mempercepat penguapan tanah, membuat retakan di persawahan makin melebar.

"Bukan satu dua hari, sudah berminggu-minggu tidak turun hujan. Pernah dua kali gerimis saja," tambah petani lainnya, Sanusi. 

Menurut mereka, selain mengandalkan irigasi, petani juga ada yang memanfaatkan tadah hujan. Tapi kini, irigasi kering, sementara hujan tidak turun. 

Tak ada yang bisa kami lakukan selain menunggu dan berdoa," ujarnya. Ia khawatir jika dalam waktu singkat tidak turun hujan, seluruh tanaman padi di wilayahnya akan mati total.

Para petani meminta perhatian pemerintah Kabupaten Tangerang, khususnya Dinas Pertanian, untuk segera turun melihat kondisi nyata di lapangan. Baik itu bantuan pengairan, sumur bor, maupun jaring pengaman sosial bagi petani yang gagal panen akibat cuaca ekstrem ini.

"Kami petani hanya bisa menanam, soal hujan itu urusan Tuhan. Tapi kalau gagal panen, kapan kami bisa maju? Anak sekolah, makan sehari-hari, semuanya dari sawah ini," harap Rusdi.

Sampai berita ini diturunkan, para petani masih menantikan titik terang. Sawah yang mulai mengering itu bukan sekadar tanah, melainkan sumber hidup bagi keluarga mereka. Jika padi mati, harapan hidup pun ikut layu.

Ananta/TiMS


Posting Komentar