Rumah Reyot Widodo Warga Pagedangan Ilir Kronjo; Tiap Hujan Berdoa Jangan Roboh, Janji Bedah Rumah Tak Pernah Terealisasi
TANGERANG, INFOTERBIT - Kesedihan dialami pasangan suami istri Widodo (64) dan Nuraeni (54), warga RT 004/01, Kp/Desa Pagedangan Ilir, Kecamatan Kronjo, Kabupaten Tangerang.
Rumah yang ditempati kondisinya semakin memprihatinkan dan tidak layak huni. Dindingnya anyaman bambu yang sudah lapuk bolong-bolong, tiang penyangganya miring ke satu sisi, tiang penyangga genteng yang terbuat dari bambu juga sudah lapuk dan genteng rumahnya sudah banyak yang pecah.
Sementara plapon rumahnya yang dialasi plastik putih, kondisinya sudah menghitam kotor dan robek-robek. Pemandangan ini membuat rumah Widodo-Nuraeni terlihat kusam.
"Kalau hujan turun, kami sekeluarga tak berani tidur nyenyak. Selain sebagian ruangan bocor karena banyak genteng yang pecah, juga khawatir rumah saya ambruk," ujar Widodo lirih, Selasa sore, 7 Juli 2026.
Lantainya yang hanya disemen tipis basah dan lembab terkena air hujan. Biasanya, dia dan istri serta dua anaknya terpaksa harus memilih ruang yang tidak terkena bocoran genteng. "Kami hanya duduk saja sambil berdoa semoga rumah ini tidak roboh menimpa kami," ujarnya.
Menurut Widodo, kekhawatiran lain muncul saat angin kencang datang. Suara rangkaian bambu lapuk berderit seolah mengerang menahan beban, membuat bulu kuduk merinding.
Kesulitan tak berhenti di situ. Keluarga ini tak memiliki kamar mandi maupun tempat buang air sendiri. Setiap kali butuh, mereka harus berjalan agak jauh dan meminta izin ke rumah tetangga.
"Kadang sungkan, tapi apa daya? Kami tak punya WC dan tempat mandi. Kami hanya bisa mengucapkan terima kasih berkali-kali karena tetangga baik hati mau memaklumi," tambah istrinya.
Kehidupan mereka pun masih serba temaram. Tak ada sambungan listrik yang masuk ke rumah reyot itu. Untung saja ada tetangganya yang baik hati. Memberinya saluran listrik demi penerangan ala kadarnya. Sehingga, anak-anak mengerjakan tugas sekolah dengan penerangan yang cukup.
Yang paling menyayat hati, Widodo bercerita bahwa namanya sudah berkali-kali didata petugas desa maupun kecamatan sebagai calon penerima program bedah rumah.
"Sudah sering ada petugas yang datang, foto, tulis data, bilang sebentar lagi akan dibantu. Tapi sampai sekarang, rumah kami tetap begini saja. Datanya ada di kertas, tapi kenyataannya tak pernah sampai ke tangan kami," keluhnya dengan nada kecewa namun pasrah.
Sebagai pekerja serabutan, penghasilan Widodo tak menentu, bahkan seringkali tak cukup hanya untuk makan sehari-hari. Membeli bahan bangunan untuk memperbaiki rumah sendiri adalah hal yang mustahil baginya.
Kini keluarga kecil itu hanya bisa menaruh harap kembali. Semoga kali ini, ada pihak yang peduli merenovasi atau membedah rumahnya.
Semoga rumah mereka bisa segera diperbaiki. Agar mereka bisa tidur tenang tanpa rasa takut, dan memiliki tempat tinggal yang layak untuk menumbuhkan harapan masa depan anak-anaknya.
Ananta/TiMS
