HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar

Ustadz Satiri, Buruh Tani yang Mengajar Ngaji Gratis Tanpa Upah: Rumah Sederhana Jadi Tempat Belajar Belasan Anak


TANGERANG, INFOTERBIT  Di tengah kehidupan yang serba sulit, masih ada sosok yang memilih mengabdikan hidupnya untuk mencerdaskan anak-anak tanpa mengharapkan bayaran.

Dialah Ustadz Satiri, seorang buruh tani sekaligus guru ngaji di Kampung Waliwis Kidul, Desa Waliwis, Kecamatan Mekar Baru, Kabupaten Tangerang. Dengan segala keterbatasan ekonomi, ia tetap membuka pintu rumahnya setiap hari untuk belasan anak yang datang belajar membaca Al-Qur'an.

Tidak ada tarif. Tidak ada pungutan. Semuanya gratis.

Rumah sederhana milik Ustadz Satiri bersama sang istri setiap hari berubah menjadi tempat anak-anak belajar mengaji. Suara lantunan ayat suci Al-Qur'an pun terdengar dari rumah tersebut.

Saat ditemui di kediamannya, Ustadz Satiri mengaku dirinya bersama sang istri hanya memiliki satu keinginan sederhana: anak-anak di lingkungannya bisa terus belajar dan pandai mengaji.

“Saya ingin anak-anak terus belajar dan pintar mengaji. Di sini semuanya gratis, tidak ada bayaran,” ujar Ustadz Satiri, Rabu 9 September 2026.

Di balik pengabdiannya, kehidupan keluarga Ustadz Satiri juga jauh dari kata berlebih.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sang istri berjualan gorengan keliling. Setiap hari ia berkeliling mencari penghasilan demi membantu memenuhi kebutuhan keluarga.

Sementara Ustadz Satiri menjalani pekerjaan sebagai buruh tani. Penghasilan yang diperoleh tidak selalu besar, namun kondisi ekonomi tersebut tidak pernah menyurutkan niatnya untuk mengajarkan ilmu agama kepada anak-anak.

Bagi Ustadz Satiri, mengajarkan anak-anak mengaji bukan soal mendapatkan upah, tetapi tentang amal dan harapan agar generasi di lingkungannya tumbuh menjadi anak-anak yang mengenal Al-Qur'an.

Namun, di balik semangat tersebut, masih ada keterbatasan yang dirasakan.

Belasan anak yang datang mengaji belum memiliki meja yang memadai. Mereka harus belajar dengan fasilitas sederhana sehingga kegiatan mengaji belum bisa berlangsung senyaman dan serapi yang diharapkan.

“Yang masih kurang itu meja untuk anak-anak mengaji. Semoga ada dermawan yang mau membantu menyediakan meja agar anak-anak bisa mengaji lebih rapi dan nyaman,” tutur Ustadz Satiri.

Kisah Ustadz Satiri menjadi gambaran bahwa keterbatasan ekonomi bukan alasan untuk berhenti berbuat baik.

Di saat sebagian orang mungkin sibuk mengejar keuntungan, Ustadz Satiri justru memilih memberikan ilmunya secara cuma-cuma demi anak-anak di kampungnya.

Kini, ia hanya berharap ada tangan-tangan dermawan yang tergerak membantu menyediakan meja belajar dan perlengkapan mengaji bagi belasan anak tersebut.

Sebab dari sebuah rumah sederhana di Kampung Waliwis Kidul, sedang tumbuh harapan besar: anak-anak yang hari ini belajar mengaji, kelak menjadi generasi yang berilmu dan berakhlak.

Ustadz Satiri mungkin tidak mendapatkan upah dari mengajar ngaji. Namun, kebaikannya meninggalkan jejak yang nilainya jauh lebih besar daripada sekadar rupiah.

Marnan/TiMS


Posting Komentar