Kisah Pilu Novianti Asal Sukadiri Tangerang: Diberangkatkan Ilegal, 'Dijual' Ulang, Tak Bisa Hadir Pemakaman Suami
TANGERANG, INFOTERBIT — Di balik impian mencari nafkah demi keluarga, Novianti (39), warga Kecamatan Sukadiri, Kabupaten Tangerang, justru terjebak dalam penderitaan yang tak terbayangkan.
Ia berangkat penuh harapan, namun kini terlantar di negeri asing, menderita perlakuan kasar, kehilangan suami, dan tak mampu pulang ke tanah air.
Janji Manis yang Menjadi Jebakan
Pada 27 April 2026, Novianti diberangkatkan ke luar negeri dengan janji manis: bekerja di Qatar, gaji Rp7 juta per bulan.
Namun kenyataan berbicara lain. Ia dikirim menggunakan visa turis — bukan dokumen kerja resmi — melalui sponsor berinisial RZL dan PRS. Tujuannya pun berubah: bukan Qatar, melainkan Oman, dengan gaji yang dipangkas menjadi Rp5 juta. Tanpa persetujuannya.
"Saya sejak awal tidak tahu kalau diberangkatkan secara ilegal. Saya merasa dijebak dan dibohongi," ucap Novianti dengan suara bergetar melalui sambungan telepon kepada Redaksi Infoterbit, Selasa 29 September 2026.
Selama tiga bulan pertama bekerja di majikan pertama, siksaan batin tak henti datang. Ia dicaci maki dengan kata-kata kasar, gaji yang dijanjikan tak kunjung terbayar. Ketika ia tak sanggup lagi bertahan, dikembalikan ke kantor penyalur. Bukannya dibantu pulang, justru dibebani denda sebesar Rp50 juta karena tak bisa menyelesaikan kontrak selama 2 tahun.
Untuk menutupi denda itu, nasibnya kembali dipertaruhkan. Novianti 'dijual' kepada majikan kedua dengan perjanjian baru yang membebani dirinya lebih berat.
Makanan Basi, Lapar, dan Pekerjaan Tanpa Henti
Di majikan kedua, penderitaannya tak berkurang. Kata-kata kasar masih menghujani hari-harinya. Perut pun tak lagi kenyang. Makanan yang diberikan sering kali sudah tersisa tiga hari, berbau dan basi. Namun lapar memaksanya menelan apa saja.
"Karena saya lapar, meski makanan basi tetap saya makan," ungkapnya sambl terisak.
Seluruh pekerjaan rumah ditanggung sendirian. Waktu istirahat nyaris tak ada. Tubuh lelah, hati terluka, dan rindu keluarga menjadi satu-satunya penenang — yang kini pun dirampas.
Pukulan Terberat: Suami Meninggal Dunia
Pada Juli 2026, kabar paling menyakitkan datang. Suaminya, Durajat, meninggal dunia. Di saat keluarganya membutuhkan kehadiran, di saat ia sendiri ingin mengantar orang yang dicintai ke peristirahatan terakhir, Novianti terjebak ribuan kilometer jauhnya. Ia tak bisa pulang, tak bisa berdoa langsung di samping pusara suaminya.
Itu luka yang paling dalam.
Kini, satu-satunya harapan Novianti hanyalah bisa kembali ke tanah air, ke pelukan anak-anak dan keluarganya yang ditinggalkan.
Ia memohon kepada Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia, Gubernur Banten, serta Bupati Tangerang untuk turun tangan memulangkan dirinya.
"Apa yang dijanjikan tidak sesuai kenyataan. Saya justru sengsara di sini. Saya mohon bantuan Bapak Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia, Bapak Gubernur Banten, serta Bapak Bupati Tangerang untuk membantu memulangkan saya ke Indonesia," rintihnya.
Novianti bukan mencari kemewahan. Ia hanya ingin pulang dengan aman, pulang sebagai manusia yang tak lagi dijadikan 'barang dagangan'.
Ananta/TiMS
