HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar

Gubernur Andra Pastikan Pencarian 7 Korban Kapal Hilang Saat Liputan Gunung Anak Krakatau Tetap Dilakukan Meski Operasi SAR Ditutup


SERANG, INFOTERBIT - Kepastian identitas akhirnya datang untuk keluarga Surakman, salah satu ABK KM Arupadhatu 1 yang hilang kontak di perairan Selat Sunda sejak 7 September 2026.

Gubernur Banten Andra Soni menyampaikan belasungkawa atas teridentifikasinya jenazah Surakman (60), anak buah kapal (ABK) Arupadhatu 1 yang hilanh saat membawa rombongan 5 jurnalis liputan Gunung Anak Krakatau. 

Pemerintah Provinsi Banten bersama Polda Banten memastikan pendampingan bagi keluarga terus dilakukan, termasuk dalam proses pemulangan jenazah hingga pemakaman.

Seperti diberitakan sebelumnya, lima jurnalis yang hilang kontak yakni; M. Bagus Khoirunnas (Kantor Berita Antara), Ari Basuki (Merdeka), Yudhistiro Pranoto (iNews), Firman Daus (Anadolu Agency) dan Donal Husni (jurnalis lepas).

Selain itu terdapat 3 awak kapal dan pemandu yakni Warta (Kapten Kapal), Surakman (Awak Kapal) dan Heriyanto (Pemandu Wisata). 

Rombongan tersebut bertolak menuju kawasan Gunung Anak Krakatau untuk menjalankan tugas jurnalistik sekaligus meliput aktivitas erupsi.

Speedboat yang mereka tumpangi  berangkat dari Dermaga Pagedongan, Carita, Kabupaten Pandeglang, pada Senin (7/9/2026) sekitar pukul 14.00 WIB. 

Perjalanan yang dalam kondisi normal diperkirakan sekitar dua jam itu kemudian terputus komunikasi hingga saat ini.

“Atas nama Pemerintah Provinsi Banten, kami menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Bapak Surakman. Semoga keluarga yang ditinggalkan senantiasa diberikan kekuatan dan keikhlasan,” ungkap Andra saat konferensi pers di Mapolda Banten, Kota Serang, Rabu (23/9/2026).

Identifikasi Surakman dilakukan oleh tim DVI melalui pencocokan data antemortem keluarga. Hasil pemeriksaan sidik jari, gigi, dan DNA memastikan jenazah yang ditemukan di perairan sekitar Pulau Enggano, Bengkulu, merupakan Surakman.

Jenazah dijadwalkan diterbangkan dari Bengkulu menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada Kamis (24/9/2026).

Sementara itu, tujuh korban lainnya masih dalam pencarian. Meski operasi SAR resmi telah ditutup setelah 10 hari, pemantauan dan koordinasi lintas wilayah tetap berjalan, termasuk dengan tim SAR di Bengkulu dan Lampung serta nelayan di wilayah pesisir.

“Kita berharap dan senantiasa berdoa untuk segera menemukan saudara-saudara kita,” ujar Andra.

Sebelumnya, dalam pelaksanaan pencarian hingga hari ke-10, jumlah unsur kapal yang dikerahkan mencapai 24 kapal pada 11 sektor pencarian. Sejumlah benda sempat ditemukan di beberapa lokasi, di antaranya life jacket, pelampung botol, helm plastik, jeriken, terpal, dan galon air.

Selama pelaksanaan operasi hingga perpanjangan operasi selama tiga hari, tim tidak menemukan tanda-tanda korban. Karena itu operasi pencarian dihentikan. 

Kabasarnas Banten Al Amrad menjelaskan bahwa operasi pencarian dilaksanakan sesuai dengan ketentuan, yakni selama tujuh hari dan kemudian dilakukan perpanjangan selama tiga hari berdasarkan hasil evaluasi di lapangan.

“Secara aturan, pencarian kami terlaksana selama tujuh hari. Setelah tujuh hari, kami lakukan perpanjangan selama tiga hari. Pada pelaksanaan tujuh hari tersebut kami mendapatkan informasi adanya penemuan jenazah pada tanggal 12, kemudian sampai tanggal 14 kami lakukan evaluasi dan kami perpanjang tiga hari,” ujar Al Amrad.

Al Amrad menambahkan, selama pelaksanaan perpanjangan operasi selama tiga hari, tim tidak menemukan tanda-tanda korban lainnya selain sejumlah objek yang sebelumnya telah disampaikan.

“Dari tiga hari pelaksanaan perpanjangan yang kami laksanakan, tidak ada tanda-tanda korban yang kami temukan selain objek-objek yang sudah kami sampaikan pada saat di lapangan. Karena itu, kami melakukan tindak lanjut evakuasi dan penghentian operasi pencarian,” jelasnya.

Setelah operasi pencarian dihentikan, Basarnas tetap melakukan langkah tindak lanjut melalui koordinasi dengan sejumlah Kantor SAR dan unsur terkait di wilayah yang diperkirakan memiliki keterkaitan dengan area pencarian.

“Hingga saat ini kami sudah melakukan koordinasi dengan Kantor SAR Bengkulu dan Kantor SAR Lampung untuk wilayah pesisir, termasuk dengan para nelayan yang ada di sekitar wilayah tersebut,” kata Al Amrad.

Menurutnya, koordinasi dan pemantauan juga masih dilakukan oleh unsur SAR di Bengkulu, termasuk penyisiran di sekitar Pulau Enggano berdasarkan informasi yang diterima.

“Untuk wilayah Bengkulu sampai saat ini teman-teman dari tim gabungan masih melakukan penyisiran dengan informasi-informasi yang kami terima. Tindakan yang saat ini kami lakukan adalah koordinasi, termasuk edukasi kepada instansi terkait, nelayan dan masyarakat yang berada di wilayah pesisir, termasuk di sekitar Pulau Enggano,” ujarnya.

Al Amrad menegaskan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari tindak lanjut setelah operasi pencarian resmi dihentikan berdasarkan hasil evaluasi dan ketentuan operasi SAR.

Pencarian kapal Arupadhatu 1 melibatkan unsur gabungan dari berbagai instansi dan mencakup wilayah perairan yang luas, mulai dari wilayah Banten, Lampung hingga Bengkulu. Selama pelaksanaan operasi, petugas mengerahkan unsur Alut untuk melakukan penyisiran di sejumlah sektor pencarian.

Polri dan Basarnas juga terus melakukan koordinasi dengan unsur terkait serta masyarakat pesisir untuk menindaklanjuti setiap informasi yang berpotensi berkaitan dengan keberadaan korban maupun objek yang berasal dari kapal Arupadhatu 1.

Ananta/TiMS



Posting Komentar