HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar

Kisah Lansia Harun-Tamah Warga Pasilian Kronjo: Menua di Rumah yang Rapuh Dalam Rintih Sakit


Catatan Ananta Putra

Founder/Pemimpin Redaksi Infoterbit.com

Di tengah kampung dengan akses gang yang sempit di Kampung Pasilian Lama, Desa Pasilian, Kecamatan Kronjo, Kabupaten Tangerang, berdiri sebuah bangunan yang tak lagi layak disebut tempat berlindung.

Dinding temboknya yang hanya setengah bangunan penuh retakan lebar yang menjalar dari bawah hingga ke atas. Sebagian plester sudah rontok hingga menampakkan batu bata yang lapuk dimakan waktu.

Kini retakan yang nyaris rubuh itu ditahan dengan sebuah lemari. "Kalau lemari itu dipindahkan, temboknya pasti rubuh," ujar Anah, anak Kakek Harun-Nenek Tamah. 

Atapnya berlubang di banyak titik, tiang penyangganya mulai melengkung. Beberapa papan triplek penutup rumah pun sudah mulai rusak disana sini.

Di sanalah pasangan suai istri lanjut usia (lansia) Kakek Harun (72) dan Nenek Tamah (62) menghabiskan sisa masa tuanya—berdua saja, menahan sakit, dan berbagi ketakutan yang sama: sewaktu-waktu rumah ini bisa rubuh menimpa mereka berdua.

Meski rumahnya punya kamar, mereka terpaksa harus tidur di ruang tamu. Sebab, atap kamarnya sudah keropos, khawatir ambruk sewaktu-waktu.

"Kami tidur di sini saja, dekat pintu. Kalau tidur di dalam kamar, nanti kalau rumah rubuh, kami terkunci di dalam dan tak sempat lari. Di sini setidaknya kami bisa langsung keluar secepat mungkin kalau ada apa-apa. Kami sudah tua, tak kuat lagi menahan beban tembok ini," ujar Kakek Harun yang tinggal di RT 003/03 Desa Pasilian. 

Di ruang tamu yang sempit itu, Nenek Tamah tidur di kasur yang lusuh, sedangkan sang suami, Kakek Tamah, hanya beralas tikar. 

Kondisi Nenek Tamah sakit. Sudah 9 tahun lamanya, dari tahun 2017. Setiap hari dia hanya terbaring lemah di kasurnya. 

"Ibu saya sakit komplikasi, ginjal dan diabetes. Untuk ginjalnya sudah dua kali dioperasi," ujar Anah, anaknya kepada Infoterbit.com.

Sembilan tahun bukan waktu yang pendek untuk berjuang melawan dua penyakit kronis sekaligus: ginjal dan diabetes. Kakinya sering bengkak, badannya terasa lemas tak berdaya, dan nyeri di sekujur tubuhnya tak pernah benar-benar hilang. 

Ia hampir tak bisa berjalan jauh, bahkan hanya untuk berpindah tempat di dalam rumah pun sering kali butuh bantuan. 

Sebulan dua kali, Nenek Tamah harus kontrol ke rumah sakit di RSUD Tobat Balaraja. Sebelumnya, untuk operasional berobat ditanggung sendiri, terutama sewa mobil. 

"Baru kemaren ini dibantu mobil siaga Desa Pasilian," kata Anah. 

Meski biaya berobat ditanggung BPJS, namun keluarga ini kerap kesulitan operasional saat berobat. 

Kakek Harun hanyalah seorang buruh tani. Selama puluhan tahun ia mengandalkan tenaganya menggarap sawah yang bukan miliknya sendiri, tapi bekerja ikut orang.

Penghasilannya tak seberapa. Untuk makan sehari-hari saja kadang tidak cukup. Apalagi saat ini, saat usianya yang makin menua. Tenaganya tak sekuat dulu lagi. Kerap tak bisa kerja karena kelelahan dan sakit. 

Ia pun sudah tidak bisa lagi berjalan berkilometer-kilometer menggarap sawah milik orang lain, menanam padi, memanen, hingga mengangkut hasil bumi di bawah terik panas dan hujan deras. 

"Sekarang lutut saya sering terasa nyeri, tenaga tak lagi sekuat dulu. Ya, penghasilan juga ikut tak menentu, kadang ada pemilik sawah yang minta melakukan pekerjaan ringan dengan upah sekadarnya, kadang berhari-hari bahkan berminggu-minggu tak ada penghasilan sama sekali," ucapnya lirih.

Penghasilan yang tak menentu ditambah istri yang sakit menahun membuat Kakek Harun tak pernah membayangkan bisa memperbaiki rumahnya yang sudah reyot.

Kakek Harun dan Nenek Tamah sudah lama berharap ada tangan yang terulur—entah dari pemerintah melalui program bantuan Bedah Rumah, atau dari siapa saja yang tergerak hatinya melihat kondisi mereka.

"Kami tidak meminta rumah yang besar atau mewah. Cukup berikan kami tempat berteduh yang temboknya tegak, atapnya tak bocor, dan lantainya kering. Agar kami bisa tidur dengan tenang, tak perlu takut rumah rubuh setiap malam. Kami hanya ingin menutup masa tua dengan aman," ungkap Kakek Harun. 

Menurutnya, setiap hujan deras, dia dan istri tak pernah bisa tidur. Air hujan tak hanya jatuh dari langit, tapi juga menembus atap yang bolong dan celah-celah dinding yang rusak.

Dalam sekejap, lantai rumah mereka tergenang air sedengkul—setinggi betis orang dewasa. Segala barang yang mereka miliki basah kuyup. Mereka hanya bisa duduk di kursi kayu tua berjam-jam, menunggu air surut sambil menggigil kedinginan.

"Pernah, air banjir sampai ke lutut kami," kenang Nenek Tamah dengan suara parau, matanya berkaca-kaca. "Baju dan selimut basah semua. Kami tak tahu harus duduk di mana. Dinginnya sampai ke tulang, dan penyakit di tubuh ini makin terasa sakit sekali."

Saat ini, di tengah deru kendaraan dan kesibukan dunia di luar sana, dua orang tua ini masih bertahan. Menahan sakit, dan menunggu, entah siapa yang masih peduli pada nasib mereka yang menua di rumah yang rapuh ini.

Catatan Ananta Putra, Minggu 19 Juli 2026

 


Posting Komentar