Kisah Ahmad Yani-Sarah Warga Kp. Gabral Desa Muncung Kronjo; Bertahan di Rumah Nyaris Rubuh
TANGERANG, INFOTERBIT.COM – Jauh dari hiruk-pikuk jalan utama, di Kampung Gabral RT 015/04 Desa Muncung, Kec. Kronjo, Kab. Tangerang, berdiri sebuah bangunan yang nyaris tak layak disebut tempat berteduh.
Di sanalah pasangan suami istri Ahmad Yani (58) dan Sarah (63) menghabiskan hari-hari tuanya berdua saja, sebatang kara tanpa sanak saudara yang tinggal bersanding.
Pemandangan di depan mata sungguh memilukan. Sebagian dinding rumah hanya tersusun dari bata separuh yang sudah remuk dan rapuh. Sementara sisanya mengandalkan anyaman bambu yang kini keropos, bolong-bolong, dan tertiup angin.
Kayu-kayu penyangga bangunan pun sudah lapuk dimakan usia, tak lagi kuat menahan beban atap.
Sementara itu gentengnya berserakan berantakan di atap menyisakan lubang-lubang besar yang membiarkan hujan dan panas matahari masuk dengan leluasa.
"Kalau angin kencang berhembus atau hujan deras, kami hanya bisa berdoa sambil duduk meringkuk di sudut yang dianggap paling aman. Takut sekali bangunan ini ambruk menimpa kami," ujar Ahmad Yani dengan suara pelan, sambil menahan sakit di kakinya yang sudah lama sulit digerakkan.
Nasib Sarah pun tak berbeda. Beberapa waktu lalu ia jatuh dan kini kakinya bengkak, nyaris tak sanggup melangkah keluar rumah. Berjalan beberapa langkah saja membuat kakek dan nenek ini sudah kelelahan dan kesakitan. Tak heran jika keduanya sudah tak lagi memiliki penghasilan tetap.
"Kami dulu buruh tani, menanam dan memanen padi. Tapi sekarang sudah tak bisa. Sejak jatuh, kaki sudah sulit dipakai jalan," cerita Sarah dengan mata berkaca-kaca.
Kiki, tetangga pasangan suami istri ini mengatakan, kondisi Ahmad Yani-Sarah memang sangat memprihatinkan. Selain rumahnya tidak layak huni dan nyaris ambruk, kehidupan sehari-hari juga serba kekurangan.
"Makan sehari-hari hanya mengandalkan kebaikan hati saudara yang mampir sesekali, atau tetangga yang berbaik hati berbagi nasi dan lauk. Kadang hanya makan sekali sehari kalau tak ada yang lewat," kata Kiki.
Bertahun-tahun lamanya mereka bertahan dengan kondisi rumah yang makin hari makin mencemaskan itu, menelan pahit getirnya hidup seorang diri.
Kini harapan satu-satunya hanya pada kepedulian pihak berwenang maupun dermawan. Mereka tak meminta hunian mewah, cukup tempat yang aman agar tak perlu lagi gemetar ketakutan menanti rumah rubuh menimpa tubuh yang sudah renta.
"Kami hanya ingin tidur nyenyak tanpa rasa takut. Jika ada yang berkenan membantu, syukur alhamdulillah. Jika tidak, kami pun pasrah," tutup Sarah sambil menatap dinding bambu yang bergoyang tertiup angin sore.
Sampai berita ini ditulis, pasangan tua itu masih bertahan di hunian yang setiap saat mengancam keselamatan jiwa mereka.
Ananta/TiMS



