Dua Tahun Tak Digaji dan Diperlakukan Kasar Majikan di Arab Saudi: Kisah Pilu Dahlia Warga Gunung Kaler yang Rindu Pulang
TANGERANG, INFOTERBIT – Suara tangisnya terdengar bergetar saat menelepon Redaksi Infoterbit.com, ribuan kilometer jauhnya. Di balik suara yang lemah itu, Dahlia, warga asal Kampung Sumur Waru, Desa Tamiang, Kecamatan Gunung Kaler Kabupaten Tangerang, menyimpan luka yang tak kering-kering.
Sudah empat ia bekerja di Arab Saudi sebagai asisten rumah tangga (ART). Harusnya, setelah dua tahun kontrak, Dahlia pulang ke tanah air. Tapi sang majikan menahannya. Akhirnya dia kembali kerja tanpa bisa pulang.
Memasuki tahun ketiga hingga keempat dia kerja itulah, kepiluan demi keiluan dialami. Sudahdua tahun ini tak sepeser pun upah yang ia terima. Tubuhnya pun kerap menerima perlakuan kasar dari keluarga majikan.
"Saya sudah tak kuat lagi, saya mau pulang, tapi dimana harus minta tolong," ucap Dahlia dalam teleponnya, minggu lalu.
Dahlia berangkat ke Arab Saudi pada 2022 dengan harapan sederhana: mengubah nasib keluarga, memperbaiki rumah orang tua, dan menyekolahkan anaknya.
Dua tahun bekerja, gajinya lancar. Tapi memasuki tahun ke 3 dan 4, tak sepeser pun ia menerima haji.
Beban kerja yang berat ditambah lagi perlakukan tak memgenakkan dari majikan membuatnya ingin cepat-cepat meninggalkan rumah itu.
Dahlia dipaksa bangun sebelum subuh dan baru beristirahat lewat tengah malam. Mulai dari menyapu, mencuci, memasak, hingga merawat anggota keluarga majikan, semua dilakukannya sendiri tanpa bantuan.
Belum lagi perlakukan kasar kekuarha majikan. Pernah suatu kali, dia didorong oleh anak majikan hingga kepalanya membentur lemari dan terluka.
Yang menyakitkan, janji gaji bulanan tak pernah diberi. Ketika ia berani menanyakan kapan uangnya diberikan, yang didapat justru makian dari majikan.
"Saya hanya bisa diam dan menangis dalam hati, takut dimarahi lagi," ceritanya dengan suara tertahan.
Bukan hanya itu, kebebasan bergeraknya pun dikurung. Paspor dan dokumen identitasnya disimpan oleh majikan. Ia bahkan tak diizinkan keluar rumah sekalipun sebentar.
Sudah berbulan-bulan Dahlia berusaha mencari jalan keluar. Ia menyampaikan keluh kesahnya ke pihak Forum Perlindungan Migran Indonesia (FPMI) Banten. Ketua FPMI Banten, Marnan Sarbini, sudah berkoordinasi dengan BP3MI Banten, Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) dan KBRI di Riyadh. Namun hingga kini belum ada tanggapan soal pemulangan Dahlia.
"Kami mohon bantuan Bapak Bupati Tangerang, Ibu Wakil Bupati Tangerang dan Bapak Gubernur Banten untuk membantu memfasilitasi pemulangan Dahlia," ujar Marnan Sarbini.
Kini Dahlia hanya bisa berharap dan berdoa, menunggu ada pihak yang mau menyelamatkannya. Ia menitipkan pesan khusus kepada Pemerintah Kabupaten Tangerang, lewat Dinas Tenaga Kerja dan lembaga perlindungan pekerja migran, agar segera memfasilitasi proses pemulangannya ke tanah air.
"Kepada Bupati dan seluruh pihak berwenang di Tangerang, tolong jemput saya pulang. Saya sudah tidak punya tenaga lagi bekerja di sini. Saya hanya ingin berkumpul kembali dengan orang tua saya di Gunung Kaler," pungkasnya.
Sampai berita ini diturunkan, keluarga Dahlia di kampung halaman terus berupaya melapor ke berbagai instansi terkait, namun belum mendapatkan kepastian waktu kepulangan anaknya.
Ananta/TiMS
