HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar

Gugun Gumilar: Harmoni Bangsa Bukan Sekadar Jargon: Menagih Nyali Generasi Digital


Pesan yang dilontarkan Gugun Gumilar, Staf Khusus Kementerian Agama RI, bukan sekadar pemanis barisan kalimat dalam sebuah spanduk. Kalimat tersebut:

—“Kerukunan bukan sekadar konsep sosial, tetapi bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual seluruh manusia”—adalah sebuah peringatan keras di tengah cuaca sosiopsikologis bangsa yang kian tak menentu.


​Titik Retak: Fenomena Sosial di Era Post-Truth

​Kita harus jujur melihat realita. Saat ini, kerukunan di Indonesia sedang diuji oleh dua predator besar: polarisasi digital dan pendangkalan literasi. Di era post-truth, kebenaran sering kali dikalahkan oleh narasi yang paling keras berteriak.


​Media sosial yang seharusnya menjadi jembatan penghubung, justru sering berubah menjadi ring tinju ideologis. Fenomena "echo chamber" atau ruang gema membuat individu hanya mau mendengar apa yang ingin mereka dengar, sementara perbedaan pendapat dianggap sebagai ancaman moral.


Akibatnya, kerukunan yang selama ini kita banggakan sebagai "warisan leluhur" mulai tampak rapuh karena hanya dipahami di permukaan, tanpa akar spiritual yang kuat.


​Tanggung Jawab Moral: Lebih dari Sekadar "Salaman"

​Sebagai Pemimpin Redaksi Infoplus9, saya melihat ada kekeliruan fatal dalam cara kita memandang kerukunan. Selama ini, kita cenderung melihat kerukunan hanya sebagai "ketidakhadiran konflik fisik". Padahal, kerukunan sejati adalah tindakan aktif.


​Masalah utamanya adalah spiritualitas yang tercerabut dari aksi sosial. Banyak yang mengaku beragama atau bermoral, namun di jemarinya, mereka menyebarkan kebencian. 


Di sinilah poin penting Gugun Gumilar menjadi relevan: jika kerukunan tidak diletakkan sebagai beban moral dan spiritual pribadi, maka ia hanya akan menjadi komoditas politik yang bisa dibuang kapan saja.


​Solusi Strategis: Menjadikan Generasi Muda sebagai "Penjaga Gawang"

​Kita tidak bisa terus bernostalgia dengan kejayaan masa lalu. 


Solusi yang harus diterapkan haruslah taktis dan berkelanjutan:

​Moderasi Digital (Digital Resilience): Generasi muda tidak boleh hanya menjadi konsumen konten. Mereka harus dilatih memiliki daya saring sebelum daya siar. Kerukunan harus menjadi "filter" utama sebelum menekan tombol share.


​Dialog Akar Rumput, Bukan Elitis

Kerukunan tidak boleh hanya dibahas di hotel berbintang oleh para pejabat. Generasi muda harus menciptakan ruang-ruang perjumpaan lintas identitas melalui komunitas hobi, seni, dan teknologi.


​Rekonstruksi Kurikulum Moral: Lembaga pendidikan harus bergeser dari sekadar mengajarkan hafalan etika menjadi praktik empati. Menghargai perbedaan harus dirasakan sebagai kebutuhan spiritual, bukan sekadar kewajiban warga negara.


​Kesimpulan dari opini ini adalah meningkatkan harmoni bangsa di era digital bukan lagi soal "menunggu instruksi" dari pemerintah. 


Ia adalah tanggung jawab individu yang harus dipikul oleh setiap anak muda yang memegang ponsel di tangan mereka.


​Infoplus9 berkomitmen untuk terus mengawal narasi ini. Sebab, jika kita gagal menjaga harmoni di ruang digital, maka keruntuhan di dunia nyata hanyalah tinggal menunggu waktu. Mari kita jadikan kerukunan sebagai gaya hidup, bukan sekadar tuntutan birokrasi. (Opini/TiMS)

Posting Komentar