(Mutiara Ramadhan) Jasad yang Tidak Tersentuh Api Neraka
Oleh: H. Abdul Mukti, M.Pd
Ketua Forum Komunikasi Da’i Muda Indonesia (FKDMI) Provinsi Banten
Marhaban Ya Ramadhan. Marhaban Ya Syahro Shiyam
Bulan Ramadhan adalah bulan kesembilan dalam pertanggalan Umat Islam (kalender Hijriah). Bulan Ramadhan juga disebut dengan bulan puasa, karena dalam satu bulan penuh diwajibkan kepada seluruh Umat Islam di dunia untuk berpuasa.
Berpuasa dari pagi terbit fajar hingga petang pada saat adzan Maghrib, dilarang untuk makan, minum cairan apapun, merokok, dan berhubungan seksual serta menahan dari hal-hal yang dapat membatalkan puasa. Selain itu, orang yang sedang berpuasa diperintahkan agar menghindari perbuatan dosa untuk menyempurnakan pahala puasa, seperti berkata hal-hal yang buruk (seperti menghina, mencaci maki, ujaran kebencian, memfitnah, mengutuk, berbohong, provokasi) dan berkelahi.
Adapun perintah puasa ini terdapat dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 183, yaitu :
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
Artinya:
"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183)
Dalam surat Al-Baqarah ayat 185 pun disebutkan bahwa bulan Ramadan ini merupakan bulan yang istimewa. Sebagaimana firman Allah SWT di bawah ini:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۗ وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ ۖ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
Artinya:
“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.
Dalam Surat Al Baqarah Ayat 183 di atas diterangkan bahwa perintah menjalankan ibadah puasa bagi orang-orang yang beriman (memiliki iman). Muslim (orang Islam) belum tentu Mu’min (beriman), namun Mu’min (beriman) sudah pasti Muslim. Oleh karenanya pada ayat tersebut Allah SWT memanggil dengan panggilan mesra terhadap orang muslim yang beriman, “wahai orang-orang yang beriman”. Maka siapa saja orang muslim (Islam) yang tidak menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan maka dia tidak beriman.
Maka hanya orang-orang yang beriman yang senang lahir batin atas datangnya bulan Ramadhan. Bulan yang penuh keberkahan, bulan yang penuh ampunan, bulan penuh hikmah, bulan diturunkannya Al-Qur’an, bulan yang terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan dan masih banyak lagi peristiwa dahsyat lainnya. Selaku muslim (orang Islam) yang beriman maka harus senang dengan datangnya bulan Ramadhan. Senang dengan datangnya bulan Ramadhan adalah salah satu tanda keimanan seorang muslim.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surat Yunus ayat 58 :
قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْاۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ
Artinya :
“Katakanlah: ‘Dengan kurnia Allah dan rahmatNya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan” (QS. Yunus: 58).
Dalam hadits pun diterangkan sebagai berikut:
مَنْ فَرِحَ بِدُخُولِ رَمَضَانَ حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلىَ النِّيْرَانِ
Artinya:
“Barang siapa bergembira dengan masuknya bulan Ramadhan, maka Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka. (Riwayat dalam kitab Durrat An-Nasihin)
Dalam hadits di atas diterangkan bahwa siapa saja yang senang atau bergembira dengan datangnya bulan Ramadhan maka jasadnya diharamkan untuk menyentuh api neraka. Oleh karena, selaku muslim yang beriman tidak akan menyia-nyiakan bulan yang penuh hikmah dan ampunan ini. Selaku muslim yang beriman selain senang atau bergembira datangnya bulan Ramadhan maka dibuktikan pula dengan berpuasa penuh keimanan dan harapan ampunan dari Allah SWT.
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya :
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760).
