Catatan Akhir Tahun 2025 Infoterbit: Kresek Bersolek Cuma Slogan, Masalah Sampah Tak Pernah Usai
Founder/Pemimpin Redaksi Infoterbit
Wilayah Kresek Tangerang benar-benar tak pernah bisa lepas dari masalah sampah. Bahkan, bukannya berkurang, titik pembuangan sampah liar malah kian bertambah.
Parahnya, pembuangan sampah liar itu justru berada di jalan utama Kresek.
Jika Anda datang dari arah Balaraja menuju Kresek lewat Jalan Raya Kresek-Balaraja, beberapa titik tumpulan sampah akan menyambut Anda di wilayah Desa Renged, Kecamatan Kresek.
Lalu jika datang dari arah Kronjo menuju Kresek melalui Jalan Raya Kresek-Gandaria, beberapa titik sampah terlihat di ruas Desa Kemuning Kresek yang berbatasan dengan Desa Cibetok Gunung Kaler. Kemudian di beberapa titik perbatasan Desa Kresek dan Desa Talok.
Tidak cuma itu. Kalau mau ke Kresek dari arah Tanara atau Gunung Kaler melalui Jalan Raya Syeikh Nawawi, begitu masuk wilayah Kresek akan disambut titik pembuangan sampah terluas, yakni di depan perum Jameela-Perum Griya Citra Permai. Di lokasi ini, pembuangan sampah warga memanjang hingga lebih dari 100 meter.
Tiga ruas jalan utama itu baru sebagian contoh titik sampah di wilayah Kresek. Kalau kita masuk ke jalan-jalan desa/kampung, tumpukan-tumpukan sampah bertebaran dimana-mana.
Kresek telah darurat sampah!
Rutinitas petugas kebersihan, baik dari Kecamatan Kresek maupun Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Tangerang seolah tak berarti.
Sebab, pagi sampah diangkut, sore sampah baru akan datang lagi. Begitu seterusnya. Warga, siapapun dia, bisa dengan bebas membuang sampah semaunya tanpa perlu takut akan dikenai sanksi.
Tak ada gebrakan tegas apapun yang dilakukan pihak terkait untuk memberi efek jera kepada masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan.
Yang ada cuma sekedar imbauan agar warga tidak membuang sampah sembarangan.
Pertanyaannya, kalau warga tidak boleh membuang sampah sembarangan, lalu harus kemana warga buang sampah?
Coba tanyakan ini ke Pak Camat Kresek, Pak Kades, ke DLHK sekalian. Saya yakin, mereka tidak punya jawaban kongkrit, pasti dan tegas. Akan lebih ke jawaban muter-muter...
Bukan berarti saya mau membenarkan warga yang membuang sampah, tapi warga membuang sampah di sembarang tempat karena di Kresek ini tak ada tempat pembuangan/penampungan sampah sementara.
Sudah tidak ada bak penampungan sementara, membakar sampah pun dilarang karena melanggar Perda. Lalu kemana masyarakat harus buang sampah? Sebuah tanya yang takkan pernah bisa dijawab.
Percuma saja warga diimbau tidak boleh buang sampah sembarangan. Lha pembuangan resminya saja tidak ada. Ibaratnya, mau menyelesaikan masalah tapi tanpa solusi.
Jadi, jangan harap soal sampah di wilayah Kresek bakal terselesaikan jika tak ada solusi dasarnya.
Mau ganti puluhan kali Kepala DLHK, ratusan kali Camat Kresek, bahkan ribuan kali Kades, juga percuma saja. Kalau mereka-mereka itu, si pemangku wilayah, tak pernah punya solusi dasar mengatasi masalah sampah.
Lalu apa yang sebaiknya kita lakukan sebagai masyarakat?
Mari belajar menerima keadaan, belajar hidup berdampingan dengan sampah, dan yang penting, belajar jadi pengurai sampah mandiri. Tinggal buka google, belajar jadi pembuat kompos, pendaur ulang sampah sederhana dan hal-hal kecil lain bisa kita lakukan untuk mengurangi sampah.
Lakukan saja hal ini sambil menunggu keajaiban, siapa tahu suatu saat, para pemangku-pemangku wilayah itu punya solusi hebat mengatasi sampah.
Kalau sekarang, mohon maaf, mereka belum hebat mengatasi sampah!
Jadi "Kresek Bersolek" cuma sebatas slogan yang digembor-gemborkan. Makna slogan itu yang berarti Kresek berhias atau berdandan, yang terjadi seolah sebaliknya.
Kresek makin berhias sampah. Sampah dimana-mana.
Catatan Ananta Putra, Rabu 31 Desember 2025
