HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar

(Catatan Ananta) Petani Oh Petani, Nasibmu Kini...


Catatan Ananta

Founder InfoTerbit Grup


POSISI petani makin terhimpit. Terjepit diantara segudang persoalan yang kian hari makin sulit diurai.


Beberapa hari terakhir, saya banyak bertemu petani, bertemu para Kepala Desa (Kades), dan para ketua kelompok tani di wilayah Tangerang dalam rangka membuat program "Desa Membangun" untuk media saya, InfoTerbit.com.


Saya mencoba menyelami, apa sebenarnya persoalan mereka. Sehingga, meski panen, tapi keluhan demi keluhan selalu terdengar diantara mereka.


Salah satu yang dikeluhkan adalah sulitnya pengairan untuk sawah mereka. 


Di Desa Kresek, Kabupaten Tangerang, hampir mayoritas petani mengandalkan sawah tadah hujan. Padahal, daerah ini berdekatan dengan sungai Cidurian, dekat dengan Situ (Waduk) Garukgak. Tapi, ternyata alirannya tak mampu menyelesaikan masalah pengairan.


Saya menemui Kepala Desa Kresek, Saidul Milad. Dia menjelaskan, pengairan jadi problem utama petani di Kresek. 


Untuk membantu petani agar tetap bisa tanam, sang Kades ini rela merogok kocek untuk menyedot air dari sungai Cidurian dengan mesin, dialirkan ke sawah-sawah warga.


"Kita sedot air yang panjangnya sampai 700 meter dari Sungai Cidurian ke sawah petani," katanya.


Itu pun tak maksimal. Akhirnya bisa ditebak, hasil panenan pun merosot tajam. Sebab, kekurangan air. Butir-butir padinya kecil-kecil.


"Itu baru satu masalah bang, persoalan lain adalah hama, terutama tikus dan keong mas yang akhirnya merusak tanaman padi milik petani," ujarnya.


Saepudin, Ketua UPK Kecamatan Kresek juga mengeluhkan hal sama. Dia mengenang, aliran air irigasi tak seperti dulu sewaktu dirinya masih kecil.


"Dulu bang, waktu saya masih kecil, saluran air di sini (Kresek, red) enak buat mandi. Saya dan teman-teman selalu mandi dan berenang di irigasi. Tapi coba lihat sekarang, banyak irigasi yang kering, kosong airnya," katanya.


Dia juga mengaku bingung, padahal wilayah Kresek ini terdapat waduk yaitu Situ Garukgak. Tapi airnya tak mampu mencover  seluruh area pertanian di wilayah Kresek.


Kondisi petani saat ini sepertinya memang semakin tak berdaya. Perjuangan yang sulit di masa tanam tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh sewaktu panen.


Sulitnya mengolah lahan, langkanya pupuk, persoalan hama hingga hasil panen yang tidak maksimal jadi lingkaran persoalan yang selalu terjadi dari waktu ke waktu. Akibatnya, banyak dari petani yang terlilit hutang karena harus mengeluarkan biaya operasional mengolah sawah lebih besar lagi.


Maka, jangan heran jika sektor pertanian bukan sektor yang banyak diminati masyarakat karena kondisi petani yang lebih banyak terjebak dalam jurang kemiskinan.


Kata Kades Kresek Saidul Milad, sekarang ini saja, kalau musim panen tiba, sulit sekali mencari tenaga orang untuk memanen. Sebab, sudah mulai jarang anak muda yang ikut terjun ke sektor pertanian. Mereka lebih memilih bekerja di pabrik atau di kota.


Menjadi harapan bagi para petani agar Pemerintah hadir dan lebih peduli terhadap nasib petani saat ini. 


Yang dibutuhkan mereka tak berlebihan, kok. Saluran air irigasi yang layak untuk pengairan, pupuk yang cukup dan tidak mahal, serta harga jual hasil panen yang tidak anjlok di musim panen. 



Catatan Ananta, Kamis 6 Oktober 2022


Posting Komentar