HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar

Kisah Para Ketua Kelompok Program Sembako, Ikhlas Kerja Sosial Demi KPM


TANGERANG, INFOTERBIT.COM - Selama ini, para Ketua Kelompok Program Sembako Kemensos kerap jadi sasaran komplain para Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Tapi dibalik itu, mereka juga jadi sosok yang harus siap dicurhati berbagai masalah para KPM.


Mulai dari bantuan yang telat diterima, mengurus KPM yang dananya tak masuk rekening hingga digosipkan kongkalikong dalam penyaluran sembako sampai diisukan telah melakukan korupsi program itu.

Hal ini seperti diungkapkan Maswah, warga yang tinggal di RT 02 RW 03 Kp. Blukbuk Luwung, Desa Blukbuk, Kec. Kronjo, Kab. Tangerang.

Wanita ini sempat diadukan ke polisi karena dianggap telah mengkorupsi bansos Program Sembako. "Saya kaget waktu ada panggilan polisi. Saya diisukan telah korupsi. Darimana saya korupsi program sembako itu," ujar Maswah yang juga Ketua Kelompok KPM di kampungnya.

Padahal, kata wanita ini, dia ikhlas menjalani aktifitas sosialnya ini meski tanpa imbalan. "Saya senang melakukannya. Bisa menolong orang lain melalui kegiatan sosial," katanya.

Lain lagi cerita Makmun, Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) Desa Pegedangan Ilir Kec. Kronjo.

Suatu kali, ada KPM di wilayahnya yang program sembakonya entah kenapa tidak turun. Karena kasihan kepada KPM, dia pun ikhlas menalangi sendiri sembako itu.

"Saya kasihan melihat para KPM ini. Sudah menunggu lama, ga taunya duit untuk mencairkan sembako tidak masuk rekening. Akhirnya, karena tidak tega melihat kesulitan KPM, saya belikan mereka beras pakai uang sendiri," ujar Makmun.

Sedangkan untuk item sembako lainnya seperti telur, ayam, buah dan lainnya, Makmun mengaku mendapat bantuan dari Widodo, salah satu supplier Program Sembako di wilayah Kronjo. "Alhamdulillah dibantu Pak Dodo, sehingga para KPM ini tetap dapat sembako meski dananya tidak masuk rekening mereka," ungkapnya.

Hal sama juga dikatakan Ny. Anah, Ketua Kelompok asal Desa Muncung Kec. Kronjo.

Beberapa kali, KPM di bawah binaannya juga mengalami masalah, dananya tak masuk rekening. Mereka pun mengadu kepada dirinya.

"Waktu itu, ada empat KPM yang dananya ga cair. Saya sendiri juga bingung, niat pengen bantu tapi darimana duitnya untuk beli sembako," kata wanita yang akrab disapa Gambreng ini.

Akhirnya, ia pun mendatangi Supplier Program Sembako Widodo di Kronjo. Atas kebijakannya, empat KPM ini tetap mendapat jatah sembako sama seperti yang lain, meski dana sembako tidak masuk ke rekening mereka.

Dia mengaku lega dapat membantu kesulitan para KPM. Karena, menurut Ny. Anah, itulah sebenarnya salah satu tugasnya sebagai ketua kelompok yakni memberi solusi atas masalah anggotanya.

"Peristiwa seperti ini, bukan sekali dua kali saja terjadi. Tapi, Alhamdulillah selaly dibantu oleh Pak Widodo selaku supplier program ini. Kami sangat berterima kasih," ungkapnya.

TiMS

Posting Komentar