Dari Ajang Pertemuan Forum Penulis Jepara Literasi; Kebersamaan Berbuah Inspirasi
Minggu, Oktober 25, 2020
JEPARA, INFOTERBIT.COM - Forum Penulis Jepara (FPJ) menggelar pertemuan, Sabtu (24/10/2020) di GSG Shima, Jl. Kartini, Panggang I, Panggang, Kec. Jepara, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.
Forum silaturahmi itu menghadirkan sejumlah penulis populer. Diantaranya yang menjadi narasumber adalah Hadi Priyanto, peraih penghargaan Humas Paling Aspirasional Tingkat Nasional 2015.
Hadi juga pernah meluncurkan buku yang berjudul Ratu Kalinyamat, Rainha De Jepara dan penulis buku Legenda, Mitos & Sejarah Jepara.
Selain itu, hadir sejumlah penulis lain yakni Budi Agus DW dari SMAN 1 Jepara, Indira Mustika, Budi Prihatini, Kushariyadi guru seni budaya SMP 2 Donorojo, Blinggoh, yang berasal dari desa Dermolo dan dr. Iskak Wijaya. Kegiatan dipandu host yang cukup populer di Kabupaten Jepara, Winarto dari Lasem, Rembang.
Dihadapan peserta forum, Hadi Priyanto membakar semangat dengan mengatakan, menulis sangat berharga. Karena itu, jangan pernah meninggalkan tulisan dan jangan sampai melupakan apa yang pernah kita pikirkan.
"Saat ini usaha percetakan dan penerbitan seperti, Airlangga, Quantum memburu penulis muda, guru yang masih milineal dari Jepara, agar muncul penulis yang bermanfaat buat pendidikan dan masyarakat di Kabupaten Jepara,” ujarnya.
Budi Agus DW dari SMAN 1 Jepara mengakui bahwa Hadi Priyanto adalah motivator dirinya sebagai penulis. Sehingga akhirnya banyak penulis yang lahir menciptakan tulisan dan mengikuti jejaknya sebagai penulis literasi.
“Saya pernah membuat Pokja dengan 65 guru SMAN 1 Jepara, untuk menulis buku, dengan target 1 bulan 1 tulisan, agar budaya guru bisa dan suka menulis, dengan workshop dengan panduan singkat menulis oleh Hadi Priyanto dan dr. Iskak Wijaya, cara menulis itu gampang," tambah Budi.
Sementara, Kushariyadi, guru seni budaya SMPN 2 Donorojo, Blinggoh, asal Dermolo, menceritakan pengalamannya.
Lulusan Seni Rupa UNY dan S2 pendidikan seni di Unnes, Semarang ini mengatakan, awalnya jadi penulis tanpa rencana. Namun akhirnya telah membangun mindset saya adalah penulis.
"Teman-teman mengenal saya bukan sebagai penulis, tapi sebagai pelukis di Dewan Kesenian Jepara, divisi seni lukis dan seni rupa. Akhirnya kini saya lebih dikenal dari tulisan ketika ambil kajian seni khas daerah," ujarnya.
Penulis terkenal lainnya, Dokter Iskak Wijaya juga memberi motivasi. Pria yang pernah menjadi dosen IAIN Kalijaga, Jogyakarta ini mengungkapkan menulis bukan karena bakat, tapi soal kebiasaan. "Harus dipaksa agar menjadi kebiasaan," katanya.
Dia mengajak kepada peserta rajin menulis. "Kita harus menulis agar bayangan tidak hilang. Catatan harus ditulis biar tidak hilang. Kuncinya disiplin dan kemauan keras, niat dan hasrat," ungkapnya.
Dia mencontohkan, banyak penulis terlahir karena paksaan. Diantaranya Buya Hamka, penulis Tafsir Al-Azhar. Tulisan itu diselesaikan Buya Hamka saat dia mendekam selama dua tahun empat bulan di penjara pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
"Lalu, Tan Malaka yang saat dipenjara menulis buku femomenal “Dari Penjara ke Penjara" yang ditulis pada tahun 1948,” ungkapnya.
Penulis: Eko
Editor: Ananta

